
Jam 11.30, sebentar lagi harus jemput Aira di sekolahnya. Aku memberesi barang-barangku dan bergegas keluar. Aku menghampiri Mia, sekretarisku, “Mia, tolong siapin berkas-berkas buat rapat nanti sore ya, saya jemput Aira dulu,”
“Baik, Bu. Sebagian sudah saya siapkan,” jawab Mia.
Mia memang sekretaris yang bisa diandalkan. Pintar dan cekatan. Aku sangat suka bekerja dengannya. Cepat aku memacu mobil menuju sekolah Aira. Aira adalah anakku satu-satunya. Usianya 5 tahun, dan sekarang dia bersekolah di TK Harapan Bangsa.
Aku segera turun dari mobil dan mencari Aira di dalam sekolahnya. Biasanya dia ditemani gurunya yang bernama Bu Anis menungguku menjemputnya. Dan benar saja, tampak Bu Anis dan Aira sedang duduk di depan kelas menungguku.
“Terima kasih untuk hari ini.” Kataku seperti yang biasa aku ucapkan setiap harinya kepada Bu Anis.
“Sama-sama. Maaf anak-anak memang suka usil sama Aira,” guru itu menjelaskan padaku.
“Saya mengerti,” hanya itu yang bisa aku katakan. Wajar kalau anak-anak lain tidak bisa berteman dengan Aira. Atau lebih tepatnya Aira tidak bisa berteman dengan mereka.
“Bu, ini ada undangan perpisahan kelas nol besar. Kebetulan anak-anak dari kelas nol kecil akan tampil menyanyi di acara tersebut, termasuk Aira” Bu Anis menyerahkan selembar undangan berwarna biru. aku hanya tersenyum menerimanya. Setelah mengucapkan terima kasih aku bergegas pamit dan mengajak Aira pulang. Aku tidak tahu akan datang atau tidak ke acara tersebut. Tapi….apa yang tadi Bu Anis bilang? Aira ikut tampil bersama anak kelas nol kecil lainnya? Apa tidak salah? Ah mungkin Bu Anis hanya bercanda.
