“Lama ya nunggunya?” dia menghampiriku dengan wajah bersalahnya.
“Nggak lama kok, baru juga sejam” jawabku sambil melihat jam tanganku.
“Maaf banget ya, Sayang, tadi ada rapat dadakan.”
“Iya, nggak apa-apa. Ya udah, yuk, pulang,” aku menyeretnya menuju motor kesayangannya.
Aku sudah capek. Seharian kerjaan seperti tak ada habisnya. Ditambah harus menunggunya menjemputku, dan satu jam bukan waktu yang singkat untuk menunggu. Dia memacu motornya menembus keremangan malam yang dingin.
“Mau makan dulu nggak?” teriaknya berusaha mengalahkan bisingnya jalanan.
“Boleh deh makan dulu,” ujarku sedikit kurang berminat. Sebenarnya aku tidak ingin makan, aku hanya ingin merebahkan tubuh di kasur empukku. Penat ini sudah tidak tertahankan. Tapi aku tidak ingin membuatnya kecewa. Tak lama kami sampai di warung nasi gandul langganan kami. Nasi gandul di warung ini sangat enak ditambah suasana warung yang nyaman, membuat kami selalu ingin kembali kesini. Warung ini merupakan salah satu tempat kami menghabiskan hari-hari bersama kami.
“Kenapa sayang? Kok diam aja?”
“Nggak apa-apa, cuma capek aja,” aku berusaha tersenyum, “di kantor banyak kerjaan tadi.”
Tak lama pesanan kami datang. Nasi gandul dengan tempe goreng dan segelas teh hangat. Kami menikmati makan malam sambil berceloteh riang. Ah, dia selalu saja bisa membuatku melupakan rasa lelah dan penat yang kurasa, selalu bisa membuatku tertawa dan kembali ceria.