The Other Side of Me

Wednesday, January 25, 2012

Langit dan Pelangi dalam Senja

Langit jingga merona manja
Di batas cakrawala senja
Langit terpaku
Terdiam dalam lamunan
Menanti...

Kumpulan warna menari menghias langit
Berpendar
Berbaur dengan jingga senja
Langit terpukau
Tercekat kata
Dia yang kunanti telah menampakkan diri

Thursday, January 19, 2012

Aku Benci Kamu Hari Ini


“Aku benci kamu hari ini!” teriakku, “dan mungkin selamanya,” ucapku lirih sebelum aku pergi meninggalkannya. Lelaki itu hanya diam terpaku di tempatnya. Mungkin tak punya nyali untuk berkata-kata. Begitupun wanita dalam pelukannya, yang sedari tadi dicumbu dengan mesra.
Sudah lebih dari delapan tahun kami bersama, sejak masih remaja berseragam SMA. Dia yang mempesona. Entah aku harus bangga atau waspada karena ketampanannya. Tak jarang aku cemburu karena pesona itu begitu memikat kaum hawa. Tapi dia tetap setia, membuatku semakin cinta.
“Aku akan menunggumu. Kembalilah dengan cinta yang sama, utuh, buatku. Akupun begitu, akan menjaga cinta ini hanya untukmu,” katamu sewaktu aku akan pergi ke Negeri Kangguru untuk menuntut ilmu.

Penggalan Kisah Lama


Hello there, the angel from my nightmare
the shadow in the background of the morgue
the unsuspecting victim of darkness in the valley
we can live like Jack and Sally if we want
where you can always find me
we'll have Halloween on Christmas
and in the night we'll wish this never ends
we'll wish this never ends
(I miss you, miss you)
......

Nggak sengaja aku dengar lagu itu dari laptop temanku, padahal sudah lama banget aku nggak dengar lagu itu. Ah…lagu ini lagi. Aku suka banget lagu Blink 182 yang I Miss U ini. Bukan cuma lagu ini saja, tapi hampir semua lagu Blink 182 aku suka. Tapi khusus lagu ini, ada sebuah cerita yang mengiringinya. Cerita yang mungkin nggak akan pernah aku lupakan. Dan hari ini, sewaktu aku mendengar lagi lagu ini, kenangan itu seakan hadir kembali di depan mataku.
***

Monday, January 16, 2012

Bidadari Itu Adalah Ibu


Dear Ibu…
Apa kabar Ibu disana? Untaian doa tak lelah kupersembahkan untuk Ibu. Harapku semoga Ibu selalu dalam lindungan Allah Yang Maha Besar. Mungkin doaku tak sebanding dengan setiap doa yang engkau ukir untuk anak-anakmu di setiap hela nafasmu, doa yang mengiringi setiap langkahku, doa yang menjadikanku seperti aku yang sekarang.
Aku bangga padamu, Ibu…
Kita bukanlah orang berada, tapi kau tak akan membiarkan anak-anakmu kelaparan. Berapa gaji Bapak yang waktu itu hanya sebagai penyapu jalan? Tidak cukup untuk makan orang serumah selama sebulan, apalagi ditambah biaya sekolahku dan kakak, belum lagi susu untuk adik yang masih bayi. Tapi kau tak hilang akal. Bangun dini hari kau jalani, membuat penganan untuk diijual, begitu setiap hari selama bertahun-tahun. Tak ada keluh kesah apalagi gerutu. Semua kau lakukan dengan keikhlasan, karena baktimu pada Bapak dan cintamu pada kami, anak-anakmu. Kau wanita tegar dan tangguh, Ibu. Sosok yang sangat aku kagumi. Aku ingin menjadi sepertimu.

Dia yang Berakhir di November

3 November 2011
            “Lama ya nunggunya?” dia menghampiriku dengan wajah bersalahnya.
            “Nggak lama kok, baru juga sejam” jawabku sambil melihat jam tanganku.
            “Maaf banget ya, Sayang, tadi ada rapat dadakan.”
            “Iya, nggak apa-apa. Ya udah, yuk, pulang,” aku menyeretnya menuju motor kesayangannya.
Aku sudah capek. Seharian kerjaan seperti tak ada habisnya. Ditambah harus menunggunya menjemputku, dan satu jam bukan waktu yang singkat untuk menunggu. Dia memacu motornya menembus keremangan malam yang dingin.
“Mau makan dulu nggak?” teriaknya berusaha mengalahkan bisingnya jalanan.
            “Boleh deh makan dulu,” ujarku sedikit kurang berminat. Sebenarnya aku tidak ingin makan, aku hanya ingin merebahkan tubuh di kasur empukku. Penat ini sudah tidak tertahankan. Tapi aku tidak ingin membuatnya kecewa. Tak lama kami sampai di warung nasi gandul langganan kami. Nasi gandul di warung ini sangat enak ditambah suasana warung yang nyaman, membuat kami selalu ingin kembali kesini. Warung ini merupakan salah satu tempat kami menghabiskan hari-hari bersama kami.
            “Kenapa sayang? Kok diam aja?”
            “Nggak apa-apa, cuma capek aja,” aku berusaha tersenyum, “di kantor banyak kerjaan tadi.”
            Tak lama pesanan kami datang. Nasi gandul dengan tempe goreng dan segelas teh hangat. Kami menikmati makan malam sambil berceloteh riang. Ah, dia selalu saja bisa membuatku melupakan rasa lelah dan penat yang kurasa, selalu bisa membuatku tertawa dan kembali ceria.

Music Video of The Week