Senja memerah di ufuk barat, debur ombak memeluk pasir, angin menebarkan aroma laut yang menenangkan. Bahkan pemandangan seindah sunset sore ini tidak bisa meredakan gundah di hati Nadya. Sudah berjam-jam Nadya duduk melamun di pinggir Pantai Senggigi. Jagung bakar yang dibelinya masih utuh tergolek di depannya. Ah...kenapa ini semua harus dialaminya? Sungguh perasaan yang sangat menyiksa. Wajah itu kembali datang menghantuinya, memenuhi pikirannya, tidak hanya saat ini, tetapi hampir setiap detik dihidupnya selama beberapa bulan ini. Nadya lebih sering melamun bahkan kadang menangis. Tetapi sisi baiknya, dia lebih sering menulis. Ide-ide untuk tulisannya seperti tidak ada habisnya. Dia curahkan semua yang dia rasakan dalam setiap tulisannya. Dia ingin menyampaikan perasaannya lewat tulisan-tulisan itu. Dan hampir tiap hari Nadya ke Senggigi, untuk menumpahkan semua perasaannya pada pasir, laut, angin dan kertas.
***

